Stiletto

Janji bertemu masih dua jam lagi. Saya datang lebih cepat karena takut terlambat. Seseorang pernah menilai saya tidak menghargai dirinya gara-gara terlambat sepuluh menit. Ya, hanya sepuluh menit! Pernah pula saya dicap tidak punya disiplin waktu yang baik. Padahal, ketika itu saya memiliki alasan yang kuat; terjebak macet dalam hujan yang seolah enggan mereda. Dan itu seolah mengacaukan hidup saya. Bahkan yang terakhir, menghapus harapan saya untuk menjadi seorang editor fiksi di sebuah penerbit terkemuka di ibukota.

Jakarta pagi ini diguyur hujan lebat. Air meruah. Macet menjadi pemandangan yang lumrah. Waktu saya rasanya hanya habis di jalan. Kejadian serupa tentu bisa datang kapan saja. Saat ini cuaca begitu sulit ditebak. Saya mencoba mencari aman. Tak ingin kejadian pahit itu terulang, lalu kehilangan peluang yang sudah nyata di depan mata. Seseorang yang akan saya temui, menjanjikan pekerjaan tambahan. Menjadi seorang freelance editor seperti sekarang, bukan pererjaan mudah dan tanpa perjuangan. Pendapatan pun tak bisa diprediksi. Tentu, tawaran menyunting beberapa novel sekaligus, adalah hal luar biasa. Tak sedikit uang yang harus saya kumpulkan untuk meneruskan hidup. Untuk Jade, bidadari kecil yang menjadi segala bagi saya.

Gerimis masih menitik rapat di balik dinding kaca. Angin berembus menggoyangkan dedaunan yang kuyup. Saya duduk agak di pojok. Menunggu. Pendar matahari meredup ketika pesanan kopi datang. Senja yang syahdu di ambang malam. Secangkir kopi hitam mengepulkan asap tipis. Aroma kopi menguar seketika. Saya menyesap setengahnya tanpa mengalihkan konsentrasi pada novel yang baru saja saya buka. Pada tegukan kedua, mendapati sosok seorang perempuan muda bertubuh lampai duduk di hadapan. Entah sejak kapan ia berada di sana. Tak ubah malaikat, ia seolah hadir tiba-tiba. Jarak kami terhalang satu meja. Dan ini membuat saya leluasa mencuri pandang.

Perempuan bergincu jingga itu berambut lurus berwarna legam. Saya menaksir, tinggi tubuhnya sekitar 170 cm. Kulitnya langsat, lumayan bercahaya. Rok motif kembang biru-merah membungkus tubuh bagian bawah sebatas lutut, membuat kakinya terlihat sangat jenjang. Kemeja katun polos tanpa lengan berwarna turquoise, begitu serasi di tubuhnya. Ia seumpama kuncup dedaun selepas terguyur hujan. Segar. Menyejukkan pandangan.

Saya menebak, ia perempuan muda yang enerjik dan penuh percaya diri. Ah, ia merokok seperti saya, juga seperti Lina. Beberapa kali ia mengisap dan mengembuskan asap secara serampangan. Saya tak terpengaruh itu. Toh ini sebuah café yang membebaskan asap rokok berkeliaran. Yang tengah saya pikirkan, justru betapa perempuan itu sangat menjaga penampilan. Dari stiletto yang ia kenakan, saya y2016-10-19-13-57-44akin ia bukan perempuan sembarangan.

Saya pernah membaca ungkapan you are what you wear, sesuatu yang kita pakai bisa mewakili diri kita yang sesungguhnya. Termasuk juga sepatu. Perancang sepatu langanan Lina pernah mengatakan, kepribadian dan sepatu saling berhubungan. Saat kita cocok dan nyaman dengan satu jenis sepatu, tanpa kita sadari ternyata kepribadian juga ikut berpengaruh. Kita akan memilih sepatu yang memiliki karakteristik yang sama dengan diri kita. Contoh logis saja, jika kita senang dan nyaman memakai flat shoe pastinya akan merasa tak nyaman jika harus memakai high heel. Begitu juga sebaliknya.

“Perempuan yang sangat suka memakai high heels identik dengan perempuan yang memiliki kepribadian kuat,” kata Joy, lelaki kemayu perancang sepatu kaum sosialita. “Perempuan di kelompok ini, sangat suka menjadi pusat perhatian. Ia memiliki selera yang tinggi terhadap sesuatu, termasuk juga dalam hal mencari pasangan hidup. Karena suka menjadi pusat perhatian, mereka cenderung sangat memperhatikan penampilan. Bisa dipastikan, mereka memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Independen dan agak keras.”

Saya menyadari ucapan Joy benar–meski tak sepenuhnya, tentu saja. Lina penyuka stiletto. Entah berapa pasang yang sudah ia kumpulkan. Ia keras kepala dan cenderung over confidence. Jika tidak, sudah dapat dipastikan rumah tangga kami akan baik-baik saja. Setelah melahirkan Jade, ia mengubah dirinya menjadi perempuan metropolis. Gila belanja barang mewah. Gila berdandan dan clubbing. Bahkan ia mengubah pergaulan dan mengganti teman-temannya hanya dari kalangan komunitas kelas atas. Lina lupa tempat asal. Ia menjadi seorang perempuan yang terobsesi pada kesempurnaan. Mendadak, ia menjadi sosok asing.

Bukan tanpa alasan jika saya kerap mengajaknya kembali menjadi Lina yang dulu. Lina yang memiliki kepribadian unik. Namun, perempuan mungil berambut ikal itu seolah buta dan tuli. Dapat dipastikan ia tak pernah menyentuh Jade, puteri kecil kami. Saya masih mengingatnya dengan jelas. Saat ulang tahun kedua, Jade merengek minta digendong. Saya memohon serupa pengemis. Namun, saya hanya bisa mengurut dada ketika melihatnya melangkah pergi, membiarkan air mata berhambur dari mata Jade yang polos. Entah dengan cara apa lagi saya harus bicara. Saya seperti kehilangan akal dan sekaligus kekuatan sebagai suami dan ayah. Mungkin saya telah gagal.

“Tidak, sayang. Mama hanya sibuk,” bisik saya di telinga Jade. Betapa saya kehilangan kata-kata untuk menjelaskan apa yang sesungguhnya sedang terjadi. Sudah terlalu sering Jade menerima penjelasan serupa sepanjang usianya.

“Mama setiap hari keluar,” rengeknya manja. Jade membelai wajah saya, memohon. “Bisakah Papa memintanya untuk tinggal sebentar saja?”

Saya mengangguk, berjanji. Janji yang hingga kini belum dapat saya bayar.

“Apakah Mama sayang sama Jade, seperti Papa dan Bi Suni?”

Tentu, jawab saya meykinkan. Jade harus tahu, tetapi saya tak bisa memaksanya sekaligus paham. Seharusnya, tak ada seorang ibu di dunia ini yang tak menyayangi anak yang dilahirkannya. Ya, seharusnya demikian. Walau pada kenyataanya, banyak perempuan seperti Lina. Banyak perempuan tak suka kehadiran anak karena berbagai alasan. Dan bagi Lina, ia mempunyai alasan kuat untuk tak menyukai Jade–bagi saya, sangat tak masuk akal.

Memandangi stiletto yang dikenakan perempuan itu, ingatan saya seperti dipaksa ditarik kembali ke masa lalu. Pada sosok perempuan muda sahaja. Saya mengenalnya di sebuah desa pinggiran kota Yogyakarta. Saat itu saya ditugasi membuat reportase oleh pimred sebuah surat kabar tempat saya bekerja. Sungguh, sosok yang memiliki keindahan alami itu telah mengikat hati. Tanpa aral, saya menawarinya menajadi pendamping hidup. Lalu memboyongnya ke Jakarta, memberinya segala yang ia pinta sesuai kemampuan.

Barangkali ini salah saya. Di awal kemunculannya di ibukota, saya mengajarinya banyak hal. Memberinya kesempatan utuk melanjutkan pendidikan. Menawarinya pekerjaan yang ia suka. Alasan saya cukup sederhana; ingin ibu dari anak-anak saya memiliki masa depan yang lebih baik. Memiliki harga diri dan kepribadian yang bisa dibanggakan. Bukan. Bukan ia tak memiliki semua itu. Saya hanya tak ingin ia terus-terusan menjadi bahan olokan teman-temannya di desa. Mereka harus berhenti menilai, Lina hanya perempuan kelas bawah dan menjelang perawan tua. Seperti dendam, saya ingin mereka menyadari kekeliruan itu.

“Aku ingin seperti mereka, Mas. Menjadi seseorang yang berharga,” ujarnya suatu ketika. Menunjukkan foto beberapa temannya. “Aku harus menjadi perempuan yang benar-benar sempurna. Banyak yang bisa membantu mewujudkannya.”

“Sejak awal, kamu sudah sempurna bagiku, Lin. Sungguh.”

Ia memilin-milin ujung rambutnya di depan cermin. “Aku akan menjadi perempuan sempurna, seperti yang kamu inginkan, Mas. Setelah ini, kamu tidak perlu minder saat mengenalkanku pada yang lain. Kamu tidak perlu malu saat kita berjalan bersama.”

Dari Joy saya menjadi tahu, Lina adalah tipe perempuan obsesif dan menggilai stiletto sejak lama. Ia rela menderita demi mengenakan stiletto selama berjam-jam. Alasannya masuk akal, ia ingin terlihat kakinya lebih panjang, tubuhnya menjadi tinggi juga seksi. Kata Joy, jenis sepatu dengan hak tinggi bukan hanya membuat wanita tampil lebih seksi, tetapi dapat menunjukan kepribadian yang penuh percaya diri dan mampu menunjukkan power sebagai seorang perempuan sejati.

Jika saja saya tidak terobsesi menjadikannya sosok perempuan sempurna, bisa jadi ia akan tetap seperti semula. Sebagaimana adanya. Mungkin yang saya inginkan waktu itu, hanya menjadikannya lebih baik. Bukan menjadi sempurna. Tapi sudahlah, saya tak ingin berkeluh dan menceritakan ini lagi. Semua sudah terjadi. Lina sudah bukan dirinya. Ia sudah pergi. Tak ada yang harus disesali lagi. Satu-satunya alasan mengapa saya mengingatnya, hanya karena stiletto yang dikenakan perempuan asing itu. Dan saya menyukai kehadirannya.

Saya menahan napas beberapa saat. Ada rasa yang berpilin di ujung hati. Tiba-tiba saya merasa takut perempuan itu bukan sebuah kenyataan. Saya bisa menyesal jika terlalu mendadak kehilangannya, meskipun perempuan itu tidak saya kenal. Saya meneguk sisa kopi dan kembali membuka-buka novel di tangan. Tak ada niat untuk benar-benar membacanya. Saya mencuri-curi pandang lagi dengan keberanian yang ada. Perempuan itu masih di sana, membaca buku. Kemungkinan besar novel. Jaman sekarang tak banyak orang yang memilih novel atau buku dalam kesendiriannya. Mereka akan sibuk dengan gadget, mengakrabinya berlama-lama entah untuk apa. Persis seperti Lina.

Hmm. Tetapi perempuan asing itu bisa jadi lebih baik dibandingkan Lina. Sebab, ia cantik dilihat dari berbagai sisi. Ia terlihat manis dalam setiap posisi. Cantik dan suka membaca. Bukankah itu perpaduan yang sempurna? Cantik dan juga berwawasan. Itu yang sebenarnya saya inginkan. Lina tidak terlalu suka membaca selain buku-buku pelajaran saat meneruskan kuliahnya. Ia juga tidak menyukai perpustakaan kecil kami, di mana saya dan Jade sering menghabiskan waktu bersama di tiap akhir pekan.

Meskipun keadaan tidak seperti dulu, saya tak pernah membatasi keinginan Lina. Pendapatan dari kerja saya yang baru, tak terlalu bisa diandalkan. Ia seolah tak peduli saya kehilangan pekerjaan. Ia asyik dengan dirinya saja. Banyak yang ia ubah di tubuhhnya. Saya tahu ia ingin terlihat lebih tinggi. Saya paham ia ingin tampil cantik. Tetapi bukan seperti yang ia lakukan. Saya bahkan tak terlalu menyukai bentuk wajahnya yang sekarang. Lina mengubah bentuk alisnya menjadi panjang, lebar dan tebal. Permanen. Bentuk matanya pun lebih membola. Saya seperti tak mengenali Lina yang sebenarnya.

Bisa jadi perempuan asing di hadapan saya juga demikian. Ia banyak memermak bentuk wajahnya. Bolehlah ia melakukannya, tetapi saya tidak mengenal wajah sebelumnya. Ia tetap terlihat cantik sekarang. Hmm, masih sendirikah ia? Di mana suami dan anaknya? Saya kembali mengawasinya. Ada daya pikat yang memaksa mata saya tak beralih. Kakinya yang jenjang menyilang. Stiletto merah itu begitu menyita pandangan.

Benar. Saya tak harus menilai seseorang hanya dari penampilan. Ia memang cantik. Tapi bisa saja tak ada bedanya dengan Lina. Perempuan saya, menjadi alien di rumah sendiri. Menjadikan istana keluarga seperti terminal. Jade seolah onak baginya. Dan saya, lelaki berusia 42 tahun ini, serupa nenek yang selalu membisingi pendengarannya. Ketegangan semakin kerap terjadi. Di meja makan, di ruang tamu dan bahan di kamar tidur. Jikapun Lina sudah tak menginginkan saya seperti yang dulu, saya hanya punya satu keinginan. Sayangi Jade selayaknya. Itu saja. Tidak berlebihan, bukan?

Semua memang sudah berubah. Hubungan saya dengan Lina bergerak berlawanan arah. Lepas pelan-pelan, menjadi biasa-biasa saja. Saya pun tak peduli ia dengan siapa. Tak mau tahu siapa yang menjemput dan mengantarnya di tiap pagi menjelang. Sejujurnya, saya tidak berdebar lagi ketika pagi hari menemukan bibirnya yang merah muda. Saya bahkan lupa, kapan terakhir ada desir dalam dada saat melihat Lina keluar dari kamar mandi mengenakan piyama. Saya tak terlalu peduli. Seandainya bisa mengubah keadaan, saya hanya ingin ia kembali untuk Jade. Bidadari kecil itu menjelang sembilan tahun sekarang. Seandainya ia tumbuh sempurna, tentu selincah teman-temannya. Jika saja ia mampu menyampaikan keinginannya secara verbal dengan baik, tentu ia cerewet dan menggemaskan.

Lina malu menunjukkan Jade pada teman-temannya. Ia tak peduli saya, juga rumah dan pengasuh. Ya, Lina tak peduli lagi pada semua. Ia lebih peduli pada koleksi stelitto-nya. Ia juga lebih takut kehilangan teman-teman komunitasnya. Saya tak mampu lagi melarang. Mungkin saya lelaki lemah yang malang. Tatapi saya punya satu keinginan istimewa. Saya akan membuat Jade selalu bahagia dan bergelimang kasih sayang. Merawat gadis kecil berkebutuhan khusus, sangat tidak mudah memang. Tetapi Jade akan selalu menjadi yang paling berharga dan teristimewa.

Hampir jam tujuh malam. Saya menangkap sosok perempuan lain di ambang pintu. Perempuan ber-syal biru. Ia yang akan memberi saya pekerjaan. Perempuan asing di hadapan saya beranjak ke kasir. Ia menghindari tatapan ketika tak sengaja mata kami bertumbukan. Ah, ia bukan perempuan seperti dalam benak saya. Saya sadar, saat perempuan mengenakan stiletto, bisa saja ia terlihat sebagai perempuan serbasuper. Tetapi bukan berarti ia perempuan sempurna, bukan? Mungkin ia tidak bahagia. Ia lebih memilih model sepatu berhak tinggi untuk meningkatkan kepercayaan diri. Agar tampil lebih menarik di mata orang lain, terutama orang yang ia suka. Lantas untuk apa?

“Jade sudah bisa membaca. Pa.” Suara khas malaikat kecil saya terdengar antusias dari seberang. Sesaat lalu, saya menghubunginya. Ia ingin bercerita apa yang dilakukannya sehari ini. Meskipun sangat terbata, saya mampu menjabarkannya. Ia sedang bahagia.

“Papa jangan pulang dulu, ini masih hujan,” sambungnya terpatah-patah. Jade takut nanti Papa sakit. Kalau Papa sakit, siapa yang akan menjaga Jade?”

“Papa punya mantel … tetapi memang belum akan pulang.”

“Jade nggak suka om yang kemaren. Mama dapat hadiah sepatu tinggi lagi, Pa! Jade nggak pernah dikasih!”

Saya tertawa pelan, menghibur diri saya dan Jade. Berjanji akan bicara dengan lelaki itu dan memintakan hadiah. Jade tak perlu memiliki rasa benci pada siapa pun. Ia masih dini, bukan?
Ah, apa pula reaksinya jika saya bersama perempuan selain mamanya?

Arah pandang saya beralih ke pintu. Perempuan ber-stiletto merah itu keluar dan hilang di balik pintu kaca. Ada yang mendadak kosong di ruang dada, entah apa. Dan saya masih belum bisa memutus cerita Jade ketika sosok perempuan harum ber-syal biru menghampiri. Ia duduk di depan saya, mengangguk paham, lantas tersenyum ranum saat saya memberinya isyarat bahwa sedang berbicara dengan seseorang yang istimewa, Jade.
***
Dimuat di Tabloid Genie, 13-19 Oktober 2016

 2016-12-08-16-26-05
Advertisements

Rok Biru Bermotif Kembang-Kembang

Rok biru bermotif kembang-kembang itu basah lagi. Kini terlalu kuyup. Tentu, penyebabnya bukan hal yang terlalu serius, selalu ketumpahan kuah sup atau bahkan hanya air minum. Itu saja! Tetapi yang terjadi selanjutnya, efek dari kejadian itu sudah dapat diduga dengan sempurna. Ya, serentetan cacian dari mulut berbusa milik perempuan bertubuh lampai yang tak lagi singset, akan menggebrak pagi yang seolah terlalu dini menguak. Suara cemprengnya merobek sunyi di seantero rumah papan, mengangkasa di langit Subuh. Kata-kata tak laik pun tertumpah bak angin puyuh.

“Sudah berapa kali aku bilang, kalau sedang makan harus duduk. Dasar dungu!” cerca Tursih, perempuan bertubuh lampai itu. “Pegang piring saja ndak becus, harus banyak tingkah. Aku bosan, Nina, harus mencuci rokmu setiap kali. Capek!”

2016-07-09 19.19.11

Nina, gadis kecil yang telah mengotori rok kesayangannya itu geming. Lututnya melemas manakala Tursih merangsek. Suara perempuan berbibir tebal itu merapalkan nama-nama binatang. Entah Nina paham atau tidak jika semua serapah itu tak lain untuk menggambarkan betapa ia telah melakukan kesalahan yang tak termaafkan. Kalaupun paham, lantas apa yang bisa ia bantahkan?

“Kenapa kamu hanya bikin susah saja?!” teriak Tursih semakin kalap. Ia berdiri tegang dan berkacak pinggang. “Anak dan bapak kok sama, bikin sudah orang lain saja! Kamu mau meniru-niru kebiasaan bapakmu, malam ngelayap, pulang pagi lalu makan dan tidur? Dasar kampret!”

Otak gadis kecil bermata jernih itu merekam sepotong pagi yang gaduh. Ia bangun karena dipaksa. Ingin sekali ia bermalas-malas di kasur kapuk beraroma liur. Ia hanya ingin berada di rumah berdinding papan ini, menikmati cucuran air hujan dari balik jendela, memandangi daun-daun trembesi di samping rumah yang menguyup. Atau … jika nanti hujan reda dan matahari terik, Nina akan bermain di bawah pohon johar, di halaman depan. Di sana ia bisa bermain bersama puluhan kupu-kupu bersayap kuning dan congcorang tanpa harus merasa terganggu oleh kehadiran siapa pun.

Ini hari Minggu, tidak perlu bangun pagi, kan? Nina hanya ingin berada di sini. Tak perlu ke sekolah. Tak perlu belajar berhitung dan mengenal istilah-istilah aneh dan bahasa-bahasa baru. Aku mau di sini saja. Malaikatku akan datang, memberi pelukan, menyusuiku. Namun, kenyataan tak seindah angan. Tursih tak pernah mau paham.

Ia masih mengingat manakala Tursih mengguyur tubuhnya mulai dari ubun-ubun. Bahkan
Nina belum sempurna mengeringkan badan saat Tursih menyodorkan pakaian; rok biru bermotif kembang-kembang dan kaus berwarna merah yang lusuh dan ukurannya kebesaran. Lantas, perempuan bermata hitam itu memaksa Nina menyantap sarapan. Habiskan, katanya. Bukankah ini masih terlalu pagi untuk sarapan? Meskipun enggan, tetapi Nina harus patuh. Ia tak boleh abai terhadap perintah, jika tidak ingin teriakan Tursih meninggi dibarengi ulah tangannya yang terlalu ringan.

Ah, bahkan matahari saja belum muncul, tetapi sepagi ini sudah banyak kejadian. Kini Nina masih mematung, menunduk memandangi bagian depan rok, lalu pandangannya jatuh pada ujung kakinya yang basah oleh kuah sup bercampur nasi dan potongan sayuran. Ia merasa jijik. Kuah itu serupa muntahan anjing tetangga yang ia lihat kemaren sore. Sudah sejak tadi ia ingin ke kamar mandi. Tak peduli jika sepagi ini ia sudah harus mandi air dingin dua kali. Bolehkah aku ke kamar mandi sebentar?

Tursih membetot dagu Nina dengan sentuhan kasar, memaksanya untuk mendongak. “Lihat aku. Yang sedang ngomong ini ibumu. Paham kamu?!”

Nina mengangguk pelan.
“Di mana bukumu?”

Gadis kecil itu menggelang. Ia mengingat-ingat.

“Dasar genjik bego!” Satu tamparan keras telak mendarat di pipi kanan Nina. “Sudah berapa kali aku bilang, jangan tinggalkan buku itu. Bikin susah saja!”

Gadis lembut berusia sembilan tahun itu sama sekali tidak melawan. Tidak pernah berani melawan. Ia lebih suka membiarkan ibunya menjelma setan. Seperti biasa, ia membiarkan tangan perempuan itu seumpama singa liar, menjambak dan menampar pipinya yang halus namun pias. Pada saat-saat tertentu, gadis kecil berambut ikal itu biasanya akan beringsut ke sudut kamar. Ia bersembunyi di sana dengan tubuh menggigil, hingga lelaki gempal yang ia panggil ‘malaikat’ datang mendekap. Tetapi saat ini ia hanya bisa memaku langkah pada lantai tanah di ruang tengah. Lelaki itu belum juga pulang sejak kemaren. Entah ke mana.

Nina tidak kuasa menatap mata perempuan yang terlalu mengerikan itu. Betapa beda dengan mata Rusdi, lelaki malaikatnya. Di kedalaman mata lelaki 45 tahun itu, Nina selalu melihat telaga teduh. Nina melihat taman bunga. Nina melihat kupu-kupu dan segala hal indah lainnya. Sementara mata Tursih, hanya menghadirkan bara yang selalu menyala-nyala penuh kebencian.

“Kamu tahu ini musim hujan, Nina?! Kalau rokmu dicuci, ndak akan kering dalam satu dua jam!” cerocos Tursih lagi dengan mata membeliak. “Sekarang kamu mau telanjang sepanjang hari?!”

Nina menepiskan tangan Tursih yang masih mencengkram erat rambutnya. Bukan, bukan untuk melawan. Kulit kepalanya terasa perih karena jambakan. Matanya yang setengah sipit mengerjap, memberanikan diri memandang wajah Tursih yang beringas. Sejujurnya ia ingin menjerit. Betapa ia ingin menyampaikan sesuatu. Namun tetap saja, serangkum kalimat yang terhimpun di ujung lidahnya, akan selalu kembali tertelan di kerongkongan. Nina hanya mampu menggerak-gerakan bibirnya tanpa suara.

Merasa mendapatkan perlawanan, Tursih mengencangkan cengkraman. Plak! Tangan kirinya kembali mendarat di pipi Nina yang membasah. Dalam hitungan detik, perempuan berambut Lady Di itu mengempaskan tubuh Nina ke lantai. Tanpa memberi kesempatan, ia melucuti kaus dan rok yang warnanya mulai memudar itu, lantas menyeretnya ke kamar mandi dan mengguyuri tubuh kurus itu dengan brutal. Rok biru bermotif kembang-kembang dan kaus, dicelupkan ke dalam ember, dan hanya meniriskannya asal-asalan. Di bangku kayu ruang tengah, ia mengeringkan tubuh anaknya menggunakan jarik yang tersampir di sandaran kursi.

Kenapa Ibu tidak pernah seperti Bapak? Bibir gadis kecil itu gemetar. Bola matanya yang masih dibaluri genangan bening, menatap nanar perempuan liar di hadapannya. Ia mencoba menahan isak dengan dada naik turun.

“Ingat, nanti jangan keluar rumah!” Suara Tursih masih saja melengking. “Atau anak-anak tetangga akan mengolok-olokmu munyuk.”

Bibir Nina yang kecil bergerak-gerak, ia ingin mengatakan bahwa mereka adalah teman-temannya. Mereka tidak pernah mengolak-olok, melainkan kasian.

“Apa? Mau protes apa? Kalau mau ngomong, ambil bukumu!”

Nina baru saja ingat, buku kecilnya ada di kamar, di bawah bantal. Buku lusuh berukuran 10 x 10 cm itu sesungguhnya tidak pernah jauh darinya. Hanya saja, sesaat lalu ia terlena dengan kehadiran seekor laron di ruang tengah. Ia pun berjingkat dari kamar, mengejar laron yang terbang memutari dian. Mangkuk plastik berisi sarapan dibawanya pula, tetapi tidak bukunya. Ia hanya lupa, dan tidak bermaksud meninggalkannya.

Sekembalinya Nina, Tursih menyodorkan spidol merah yang dijumputnya dari atas meja kayu. “Kenapa bapakmu ndak pulang? Tulis!”

Tangan kiri Nina menggoreskan spidol di lembar kesekian bukunya. Ini untuk Ibu, tolong baca. Ia tak peduli reaksi apa yang akan diterimanya. Gadis kecil itu hanya ingin menulis, agar Tursih bisa membaca hatinya. Satu dua buliran bening dari sudut mata menetes pada permukaan kertas. Nina mengusapnya sebelum menyerahkan pada Tursih. Selepas itu, ia menyelimuti tubuhnya menggunakan kain jarik.

Tursih terhenyak. Perempuan berkulit cokelat itu mengerjap beberapa saat, lalu menarik napas agak panjang. Ia hanya ingin jawaban dari pertanyaan yang ia ajukan, bukan tulisan itu. Tiba-tiba, Tursih merasakan ada yang menyeruak dan berpilin memenuhi rongga dada. Ah, kalau mau jujur, tak ada sesuatu pun di dunia ini yang bisa melebihi sayangku kepadamu, Nina. Hanya keadaan yang memaksa begini.

Nina sayang sama Ibu, begitu yang ditulis Nina. Ah, begitukah? Gegas Tursih membenahi berbagai rasa yang berkecamuk. Punggung tangannya tangkas menghapus bulir di ujung mata, seolah tak ingin Nina memergokinya.

“Aku harus berangkat kerja. Kunci pintunya!” ujarnya kemudian. Suaranya turun beberapa oktaf. Ia sibuk merapikan rambut dan pakaiannya. “Mungkin bapakmu akan segera pulang. Nanti siang, mintalah makanan padanya kalau lapar.”

***

Hujan masih saja gemericik, mengantarkan hawa dingin di setiap sudut ruang. Rok biru bermotif kembang-kembang itu sudah lama didiang di dekat tungku. Rusdi yang melakukannya sejak lima menit yang lalu. Sudah mulai mengering, katanya kepada Nina yang terus saja merapat di tubuhnya. Gadis kecil itu tersenyum samar dan mengangguk pelan. Nina bahagia, demikian Rusdi membaca rona wajah anaknya.

Rusdi paham, betapa Nina sangat menyayangi rok itu. Kendatipun memiliki satu-dua pilihan, tetapi rok itu hampir setiap hari tidak pernah lepas dari tubuhnya. Setelah memilikinya, Nina seolah enggan memakai pakaian yang lain. Kotor-cuci-kering-pakai, kotor-cuci-kering-pakai. Selalu saja begitu. Warnanya pun yang dulu cemerlang, kini semakin lusuh dan memudar. Untung bahannya berkualitas istimewa, meskipun sekian ratus kali dipakai, serat dan jahitannya masih saja kukuh.

Nina akan histeris dan berteriak sejadi-jadinya jika permintaannya untuk memakai rok kesayangan itu tidak terpenuhi. Tak jarang, ia tidak akan menghentikan aksinya hingga tubuhnya mengejang, lalu pingsan. Bukan tentang rok itu saja. Sejak kecil Nina memiliki kebiasaan yang ia anggap sangat tidak wajar itu. Rusdi kerap kewalahan menghadapi tabiat anaknya. Sedang Tursih, sama sekali tak mau peduli.

Pada saat-saat tertentu Nina akan tenang jika Rusdi menyusuinya. Ya, menyusui dengan caranya. Lelaki itu terkadang merasa yang dilakukannya tidak layak, hingga kerap ia pun menolak. Pernah ia berniat menghentikan kebiasaan itu, namun sebanyak ia mencoba, sebanyak itu pula ia gagal. Ini salahnya, mungkin. Lelaki itu tak paham. Memang, ia yang memulainya saat Nina belum genap dua tahun. Kini anakku sudah hampir remaja, cantik pula. Rusdi menelan ludah yang terasa menyangkut di kerongkongan. Jemarinya meraba rok biru bermotif kembang-kembang itu. Sedikit lagi kering, bisiknya pada Nina. Gadis kecil itu kian semringah. Rusdi amat senang.

Lelaki gempal berwajah bulat itu masih mengingat dengan jelas bagaimana ia mendapatkan rok biru bermotif kembang-kembang itu. Lebih dari dua tahun yang lalu, rok itu milik seorang gadis kecil yang mereka jumpai secara kebetulan di pasar malam. Nina sangat menginginkannya hingga mengamuk dan tidak mau pulang.

“Saya bersedia melakukan apapun untuk mendapatkan rok itu,” mohon Rusdi pada perempuan ayu, ibu dari gadis kecil yang memakai rok biru bermotif kembang-kembang itu. “Katakan, Nyonya. Katakan berapa saya harus membayarnya. Berapa pun, saya bisa mengangsurnya dengan uang upah kerja saya … yang tidak seberapa.”

“Maaf, saya rasa Anda bisa mendapatkannya di tempat lain.”

“Anak saya hanya ingin rok itu, Nyonya,” papar Rusdi setengah mendesak. “Tolong bantulah saya menghentikan tangisnya. Tolonglah saya, Nyonya.”

Seumur-umur, Nyonya muda berkulit langsat itu tak pernah mengalami kejadian seaneh ini. Ia tak tahu harus melakukan apa. Lama sekali perempuan itu memandangi Nina yang masih saja berteriak dan menunjuk-nunjuk, lalu beralih memandang putrinya yang tak bereaksi apa-apa. Kedua anak perempuan itu sepertinya sebaya. Ukuran tubuh mereka pun sepertinya tak jauh beda.

“Maaf,” ujar si Nyonya hampir berbisik demi melihat tingkah Nina, “Apakah anak Anda ABK, anak berkebutuhan khusus? Maafkan saya sudah lancang bertanya.”

Lelaki sederhana itu tersenyum maklum. Ia sama sekali tak paham apakah anaknya termasuk ABK. Yang ia tahu, dua play grup yang ada di desanya menolak Nina untuk bergabung. Di usianya sekarang, Nina seharusnya sudah masuk ke sekolah dasar, tetap saja mereka menolak. Beberapa guru menyarankan untuk membawanya ke SLB di ibukota kecamatan. Bukan hanya jarak yang menjadi kendala, adalah biaya yang paling utama. Untung saja, beberapa mahasiswa KKN di desanya begitu terbuka. Kelompok Belajar Istimewa–sejenis SLB–yang mereka rintis, bisa menampung semua jenis anak dengan kelainan-kelainan istimewa. Nina belajar di sana dari jam tujuh hingga dua belas, enam hari dalam seminggu.

“Nina bisu dari kecil, Nyonya,” tutur Rusdi gamblang. “Tapi kita bisa berkomunikasi dengan baik. Dia anak yang pintar. Meskipun tangan kanannya tidak berfungsi, dia pintar menulis. Dengan tangan kirinya, maksud saya.”

Nyonya cantik bertubuh harum itu terkesiap. Ia baru menyadari jika tangan kanan Nina hanya separuh dengan ukuran yang terlalu kecil. Maaf, ujarnya pendek, tak ingin Nina dan Rusdi tersinggung mendapati matanya masih menyelidik.

“Kami bukan pengemis, Nyonya,” ujar Rusdi menambahkan.

Si Nyonya tergugu. Setelah meminta pertimbangan anak perempuannya, ia memberikan selembar kartu nama. Besok pagi bisa diambil di rumah, ujar perempuan itu dengan senyum simpatik. Kedua bapak-anak itu bersorak girang. Entah bagaimana harus berterima kasih, Rusdi tak tahu melakukannya selain bersujud kidmat.

Ngemis dari mana lagi?!” tanya Tursih sinis saat Rusdi memakaikan rok itu. “Jangan bilang kalau rok itu hasil ngutil di toko … atau menjarah.”

Rusdi hanya diam. Selama ini ia tidak pernah mengemis, apalagi mencuri. Tidak akan! Sesulit apapun, mengemis dan mencuri adalah hal yang ia pantangkan. Memang, ia tak pernah berterus-terang pada isterinya, apa yang ia kerjakan selama ini. Ia pernah menjadi kuli panggul. Pernah menjadi petugas keamanan hingga juru parkir di sebuah pasar. Namun, penghasilan yang tak seberapa, tak pernah dianggap oleh isterinya. Kerjamu hanya ngelayap, makan dan tidur, teriak perempuan 40 tahun itu acap kali.

Tursih lupa, ia pun tak beda dari Rusdi. Ia setiap hari harus meninggalkan rumah dengan alasan bekerja. Mereka sama saja, selalu saja saling membeberkan alasan. Kadang-kadang hanya membawa beras yang tidak cukup mereka makan dalam sehari. Mereka jarang bertemu dalam satu kesempatan. Meskipun ada, hanya pertengkaran dan pertengkaran. Selalu saja saling menyalahkan. Selalu saja saling menegangkan urat leher demi teriakan dan teriakan laiknya anjing dan kucing. Hingga seolah Tursih lupa memiliki tanggung jawab. Mereka lupa memiliki Nina yang butuh perhatian.

Sejak lahir, Nina tidak diterima dengan baik oleh Tursih. Betapa Rusdi tahu. Perempuan itu merasa malu sekaligus marah memiliki anak yang cacat. Dia anak kita, tegur Rusdi suatu ketika. Ia meminta kesadaran Tursih untuk menerima Nina. Namun, Tursih masih saja berkepala batu. Ia bahkan enggan menyusui Nina kecil manakala ia tahu anak pertamanya itu tidak bisa menangis dengan normal. Tursih benar-benar menghindar. Kamu saja yang menyusui, teriaknya sejak itu kepada Rusdi.

Hidup dalam kemiskinan. Melahirkan dalam kesendirian–ia sempat lari dari Rusdi saat kehamilan menjelang sembilan bulan dan melahirkan di sebuah kampung dibantu dukun beranak–membuat Tursih limbung dan terkatung. Ia pernah mengutuk Tuhan, menganggap Dia tak pernah ada. Ia menyalahkan diri dan lingkungan, termasuk orang-orang di sekitarnya. Entah berapa kali Tursih ingin menghabisi Nina. Juga hidupnya. Ia sering merasa tak berguna. Namun acap kali semangatnya berkobar, ia ingin mengubah hidup. Demi anaknya, demi rumah tangganya, demi mereka. Sejak itu Tursih menjadi hilang keseimbangan. Hidupnya berubah, tertutup dan anti sosial.

Rusdi terkesiap. Bayangan masa lalu hilang dalam sekejap. Ia terlonjak dari duduknya ketika sesuatu membasahi kepalanya. Ah, atap sialan itu bocor lagi! Ia belum sempat menjauhkan rok biru bermotif kembang-kembang dari depan tungku, ketika air mencurah membasahi ruang dapur yang tak seberapa. Rok itu kembali basah. Amat kuyup. Rusdi memaki, menyesali geraknya yang tak gesit. Ia mengucapkan maaf dengan suara pelan. Namun, Nina justru berlari dan berteriak histeris.

***

Kali ini Rusdi hanya bisa menawarkan tanpa berharap banyak, ia akan mengeringkan kembali rok biru bermotif kembang-kembang itu setelah membenahi atap di atas dapur. Hujan belum berhenti ketika Rusdi menenangkan Nina dan membawanya kembali ke dalam rumah. Gadis kecil itu masih saja meronta dan protes laksana kilat dan guntur yang masih saja silih berganti di luar sana. Mulutnya meracaukan kalimat-kalimat tak jelas dan susah dimengerti. Dalam keadaan begini, Rusdi mulai kehabisan akal; rok biru bermotif kembang-kembang itu tak akan kering dalam sekejap. Tetapi membiarkan Nina histeris hingga tidak sadarkan diri, bukan pula perkara yang mudah.

“Mandi dulu ya? Lihat kakimu penuh lumpur.” Rusdi membujuk Nina lembut. Cekatan ia merentangkan rok biru bermotif kembang-kembang pada palang kayu, di depan tungku. “Selesai mandi nanti, siapa tahu rokmu sudah kering. Mau ya?”

Nina menjejak-jejakkan kedua kakinya ke tanah. Tangisnya tak bersuara. Napasnya tersengal karena isak yang tertahan. Rusdi mendekapnya ketika menyaksikan kedua mata anaknya membeliak-beliak. Tangan gadis kecil itu pun menggapai-gapai tak tentu arah, menegang. Rusdi mengeratkan pelukan, membawa gadis kecilnya ke atas dipan. Sudah, sudah. Kemarilah. Bapak tak akan membiarkanmu menyiksa diri.

Suara hujan di atas atap menderu-deru. Angin kencang menerabas lubang-lubang di dinding papan. Rok biru bermotif kembang-kembang tersungkur ke perapian manakala Rusdi megendurkan kolor celananya. Menyusulah, anakku, ujarnya bergetar.

***

Yogyakarta, 30 Mei 2016


Alamat Redaksi yang Menerima Cerpen dan Syarat-Syarat Pengirimannya

Bagi kalian yang menginginkan info besarnya honor dan cara berkirim cerpen ke beberapa koran atau majalah, mungkin info berikut ini bisa membantu. Jangan lupa, jika masih ragu, sebelum kirim bertanyalah pada mereka yang cerpennya pernah dimuat oleh media yang akan kamu tuju. Jangan lupa juga, silakan info ini di-share biar teman-teman kalian juga tahu.

=> Majalah Bobo

  • Honor sekitar Rp 250.000,-
  • Syarat-syaratnya:
  1. Tulis rapi ceritamu, yang umum pakai Arial 12 dan spasi 1,5, panjang 600-700 kata untuk cerita 2 halaman dan 250-300 kata untuk cerita 1 halaman.
  2. Cerita asli karya sendiri, tidak menyinggung kekerasan, pornografi dan sara. Cocok untuk anak-anak usia sekolah dasar. Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
  3. Cantumkan nama, alamat, nomor telepon dan nomor rekening beserta nama bank.
  4. Lampirkan biodata singkat.
  5. Kirimkan naskahmu ke naskahbobo@gramedia-majalah.com atau via pos, ke alamat:
    Redaksi Majalah Bobo
    Kompas Gramedia Majalah Lt 4
    Jl. Panjang No. 8A, Kebon Jeruk, Jakarta 11530

reading.jpg

* Tidak selalu ada konfirmasi pemuatan.
* Lama tunggu pemuatan rata-rata 4-9 bulan, tetapi dari info, ada yang setahun lebih.

=> Majalah Ummi (Cerpen Anak: Permata) 

  • Honor Rp 250.000, – (menurut kabar sudah naik)
  • Syarat-syaratnya:

gambar-mewarnai-anak-indonesia-7

  1. Tulis rapi dengan panjang naskah 4.500-5000 CWS spasi dobel.
  2. Cerita asli karya sendiri, tidak menyinggung kekerasan, pornografi dan sara. Cocok untuk anak-anak dan sesuai dengan napas Majalah Ummi.
  3.  Memiliki keunikan dan pesan moral yang mendidik.
  4.  Kirimka naskah, biodata penulis dan scan KTP di akhir naskah ke; kru_ummi@yahoo.com dengan subjek : Kirim Cerpen PERMATA

* Ada konfirmasi jika naskah akan dimuat

=> Taman Fiksi Online

  • Honor Rp 250.000 untuk cerpen dan Rp 750.000 untuk cerbung
  • Syarat: naskah bersih dan tema unik. Ketik rapi, maksimal 15.000 cws untuk cerpen dan 30.000 cws untuk cerbung. Lalu kirim ke email tamanfiksi@gmail.com, beserta biodata singkat yang memuat nama, alamat dan no telepon.

reading1

*Bagi yang hobi membaca, jangan lupa untuk berlangganan majalahnya ya. Hanya 125.000 untuk enam edisi.

=> Tabloid NOVA

  • Honor sekitar Rp  400.000,-
  • Persyaratannya:
  1. Tema pasti tentang kehidupan (wanita) dewasa. Bocoran nih, Nova suka dengan karakter wanita yang tangguh, berjuang, perhatian sosial dan lingkungan. Sebaiknya hindari cerpen fantasi dan misteri.
  2. Panjang tulisan antara 5-10 halaman A4, * Spasi 1,5, Times New Roman 12.
  3. Tulis biodata lengkap di akhir tulisan; Nama, Alamat, No. Telepon, dan Nomor Rekening. (bila bukan nomer rekening milik pribadi, beri keterangan)
  4. Kirim via email ke: nova@gramedia-majalah.com

Catatan:
– Tunggu 1-7 bulan, jika merasa terlalu lama menunggu dan ingin mengirimkan ke redaksi lain, sebaiknya buatlah surat penarikan naskah.
– Tidak ada konfirmasi pemuatan.
– Ada konfirmasi transfer via telepone ketika pertama dimuat.

 

=> Majalah Ummi

  • Honor sekitar Rp 400.000,- (menurut info, sudah bertambah)
  • Syarat-syaratnya:

ummi

  1. Cerita bisa umum tentang keluarga, akan tetapi diutamakan tentang tema keluarga Islami.
  2. Dua halaman dengan panjang naskah maksimal 9.000 CWS.
  3. Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
  4. Tema unik dan menarik dengan konflik yang tergarap baik
  5. Cerpen dengan setting suatu daerah yg khas dg dialek lokal, biasanya memiliki satu poin lebih dibanding cerpen yg setingnya tidak jela.
  6. Perkuat karakter tokoh.
  7. Kirimkan naskah beserta biodata singkat yang memuat; nama, alamat lengkap dan nomer telepon.
  8. Naskah bisa dikirim ke kru_ummi@yahoo.com. atau dikirim ke: Redaksi Ummi,
    Jl. Mede No. 42A Utan Kayu, Jakarta Timur

Catatan: Akan ada konfirmasi jika cerpen dimuat, termasuk juga konfirmasi tentang nomer rekening.

=> Majalah Kartini

  • Honor sekitar Rp 350.000,-
  • Syarat-syaratnya:
  1. Tema tentang wanita dewasa; pilihlah tokoh utama wanita yang kuat dan bukan korban.
  2. Jumlah CWS) sekitar 13.500. TNR atau Arial, spasi 1.5 atau double juga boleh.
  3. Kirimkan naskah beserta biodata secukupnya ke; redaksi_kartini@yahoo.com

red1Catatan:

  • Honor ditransfer setelah sebulan dimuat.
  • Selalu memberitahu apakah tulisan akan dimuat atau tidak.

=> Majalah Gadis

  • Honor sekitar Rp 750.000,-
  • Persyaratannya:

reading4

  1. Temanya pasti tentang remaja dong, tapi hindari yang lebay, melo termehek-mehek.
  2. Panjang tulisan antara 4-7 halaman A4, – Spasi 2 (dobel), – Times New Roman 12.
  3. Tulis biodata lengkap di akhir tulisan; Nama, Alamat, No. Telepon, dan Nomor Rekening
  4. Jangan lupa, sertakan scan atau copy halaman pertama dari buku rekeningmu (yang ada nomor rekening dan nama kamu itu lho).
  5. Kirim via email ke: Gadis.Redaksi@feminagroup.com lalu cc ke: farick.ziat@yahoo.co.id

Tunggu 3 sampai 6 bulan, kalau cerpenmu dimuat, akan ada konfirmasi via email dan telepon.

 

=> Koran Kompas

  • Honor, sekitar Rp 1.100.000,-
  • Persyaratannya: reading4
  1. Buatlah cerpen pada file MS word, maksimal 10.000 CWS.
  2. Jangan lupa sertakan identitas berupa nama dan alamat lengkap serta nomor yang bisa dihubungi pada bagian bawah cerpen atau puisi. Eits, jangan lupa nomer rekening bank kalian sebaiknya disertakan juga.
  3. Simpan file tersebut kemudian kirimkan ke: opini@kompas.com dan atau ke opini@kompas.co.id
  4. Pada subject email, silahkan kalian tulis ‘Artikel Cerpen’ dan pada badan email bisa disertakan identitas kalian atau hanya kata pengantar saja.

Silahkan ditunggu 3-12 bulan, apakah nanti artikel kalian dimuat atau tidak. Apabila artikel kalian dimuat, tentu akan mendapatkan pemberitahuan melalui email dan juga akan mendapatkan honor dari tulisan tersebut.
Untuk tahu lebih banyak tentang jenis cerpen Kompas, silakan intip Cerpen Kompas

=> Majalah Femina

  • Honor Rp 1.000.000 dan Cerbung Rp 3.100.000,-
  • Syaratnya: reading3
    1. Tulis naskah dengan font arial ukuran 12 spasi 2.
    2. Panjang naskah cerpen 12.000-15.000 CWS (sekitar 8-10 halaman) dan cerbung sepanjang 15.000-22.000 CWS (sekitar 40-50 halaman).
    3. Lengkapi biodata diri, nomor kontak, dan kirimkan ke email ini kontak@femina.co.id

Catatan:

  • Biasanya ada balasan jika naskah sudah masuk.
  • Masa tunggu kepastian sekitar 6 bulanan dan ada pemberitahuan jika di tolak ataupun akan dimuat.
  • Sebaiknya pelajari teknik mengemas cerpen dan cerbung di Femina agar mudah dimuat.

 

=> Tabloid Genie

  • Honor Rp 250.000,-
  • Persyaratannya: reading
  1. Buatlah cerpen tentang kehidupan wanita atau rumah tangga sepanjang 12.000 karakter.
  2. Simpan dalam MS word, TNR 16.
  3. Sertakan identtas asli dan alamat.
  4. Kirim file dalam lampiran ke tabloidgenie@gmail.com
  5. Pada subject email, silahkan kalian tulis ‘Naskah Cerpen’ dan di badan email hanya ditulis pengantar.

Silahkan ditunggu 1-3 bulan, apakah cerpen kalian dimuat atau tidak. Kalau dimuat, biasanya akan mendapatkan pemberitahuan melalui email dan juga akan mendapatkan honor dari tulisan tersebut.

 

=> Majalah GoGirl Online

  • Honor Rp 500.000,-
  • Persyaratannya: red2
  1. Buatlah cerpen tentang kehidupan remaja dengan tema yang unik minimal 900 kata.
  2. Simpan dalam MS word, Calibri 11, spasi 1.
  3. Sertakan identtas asli dan alamat lengkap serta no rekening.
  4. Kirim file dalam lampiran ke metha@gogirlmagazine.com.

Silahkan ditunggu 1-4 bulan, apakah cerpen kalian dimuat atau tidak. Jika hingga 4 bulan tidak dimuat atau tidak dihubungi redaksi, maka cerpenmu berhak ditarik.

Biar Naskahmu Dilirik Penerbit

Kalian pasti punya mimpi menjadi penulis novel, kan? Sebenarnya, menjadi penulis novel itu sebenarnya tidak terlalu susah, kok. Yang harus kita lakukan adalah banyak-banyak membaca karya orang lain untuk memperkaya pengetahuan. Setelah itu, barulah kita belajar menulis novel. Banyak cara untuk belajar; dari otodidak, belajar pada pakarnya hingga belajar di kelas online. Kesemuanya itu tidak selalu harus merogoh kantong loh!

Lalu, apa yang harus kita lakukan setelah naskah novel selesai?

naskah asli   karena-aku

Okay, anggap saja kita sudah bisa menulis novel. Setelah naskahnya jadi, mau diapakan? Mau diterbitkan sendiri lalu dijual atau ditawarkan ke penerbit? Barangkali ini menjadi awal kebingungan para penulis (pemula). Tapi anggaplah kita ingin mengirimkan ke penerbit. Biasanya kita bingung ke mana mengirimkannya, apa saja yang harus disertakan, dan lain-lain.

Nah, di bawah ini ada beberapa tips yang mungkin berguna bagi kita saat kita ingin mengirimkan naskah:

1. Perhatikan Kerapian Naskah
Setelah menulis, jangan lupa memerhatikan proses editing. Usahakan tidak ada typo. Perhatikan EYD dan tanda baca. Perhatikan juga jenis huruf, margin dan sebagainya. Kerapian naskah ini menjadi nilai plus dan memperbesar kesempatan naskah kita dibaca oleh editor. Bahkan menurut beberapa sumber, tampilan awal naskah akan menentukan editor akan membaca naskah kita atau tidak.

2. Ikuti Aturan Penerbit
Untuk tata letak seperti ukuran kertas, margin, jenis dan ukuran huruf, usahakan mudah dibaca (kalau bisa sesuai dengan ketentuan dari penerbit).

3. Surat Pengantar dan Identitas Diri
Surat pengantar adalah semacam etika atau sopan santun bagi seorang penulis yang bertamu dan mengajukan naskah pada penerbit. Buatlah surat pengantar yang singkat, sederhana namun memikat dan sopan. Satu lagi, jangan lupa sertakan identitas diri pada naskahmu.

4. Via Pos atau EmailPrint Out atau Soft Copy?

Ada dua cara pengiriman naskah novel, yaitu via pos atau email. Jika naskahmu dikirim via pos, maka jilidlah dengan rapi. Lalu kirimkan dalam amplop tertutup dengan mencantumkan alamat yang benar. Jika pengiriman menggunakan soft file, pastikan naskahmu tidak dicampur dengan sinopsis dan biodata. Buatlah ketiganya terpisah.

5. Cari Penerbit yang Cocok.

Setiap penerbit biasanya memberikan keterangan naskah apa saja yang ingin mereka terbitkan. Naskah bergenre apa saja yang mereka cari. Cara mudah mencari informasi ini, selain lewat google, kita juga bisa membaca novel-novel terbitan penerbit yang kita tuju. Jadi, kirimkanlah naskah novelmu ke penerbit yang sesuai.

6. Sinopsis yang Memukau.

Salah satu kunci untuk memikat penerbit adalah sinopsis yang memukau. Sinopsis sebanyak 3 halaman diibaratkan sebagai gerbang awal untuk mengenalkan naskah kita yang berjumlah ratusan halaman. Buatlah sinopsis yang jujur tentang naskah kita. Jangan mambuatnya berbunga-bunga dan jangan pula menggantung seperti blurb.

7. Bersabarlah Menunggu Proses Seleksi

Setelah naskah kita kirimkan, tahap selanjutnya adalah menunggu. Jangan pikir setelah dikirim, mereka akan langsung menjawab dan mengiyakan. Paling tidak kita harus sabar menunggu antara 2-7 bulan–bahkan ada yang lebih. Daripada bosan menunggu kabar, kita bisa menulis naskah yang lainnya, kan?

8. Bolehkah Menanyakan Status atau Nasib Naskah?

Boleh sekali! Itu adalah hak penulis untuk menanyakan status naskah yang ia kirim. Jika sampai waktu yang ditentukan kita belum mendapat kabar, kita boleh menanyakan naskah tersebut. Namun, jangan memberi kesan kita meneror mereka ya.

Nah, nggak sulit, kan?
Yok segera kirimkan naskah kalian!

Dikutip dari: http://www.izwie.com/2015/05/cara-ampuh-mengirimkan-novel

LikeShow more reactions

Lelaki dari Masa Lalu

Aku lelaki dari masa lalu. Demikian yang ditulis lelaki itu semiggu yang lalu melalui pesan di inbox-nya. Meskipun sempat bertanya dan menduga-duga, tetapi Riris tidak lantas menanggapi secara serius pengakuan yang terkesan aneh tersebut. Riris yakin, lelaki itu—atau bisa saja seorang perempuan—sekadar iseng ingin menyapa seperti layaknya penggemarnya yang lain. Atau bisa saja ia salah satu dari mereka yang suka mengaku-ngaku menyukai novel-novel karya Riris. Perempuan itu pun berjanji di dalam hati, tak akan terpengaruh apalagi menanggapi manusia aneh itu dengan cara yang berlebihan.

Namun sapaan lelaki itu pada pagi dua hari berikutnya, membuat Riris terhenyak beberapa saat di depan layar laptop. Kepala Riris dipenuhi berjuta tanya dan berbagai praduga. Bukan! Bukan karena rayuan iseng lelaki itu yang mulai mengganggu dan mempengaruhi pikirannya. Hanya saja, bagaimana lelaki asing itu menyapa, mendadak mematahkan anggapan Riris bahwa lelaki itu hanya sedang membual. Jelas, ia bukan sekadar pembaca atau fans berat seperti yang lain. Ia mengenali siapa Riris yang sebenarnya.Riris sangat tahu. Selama ini, selain keluarga dan teman dekat, tak ada yang pernah memanggilnya dengan sebutan nama itu. Semua penggemar novel-novelnya hanya mengenal Embun Kinanti, sama sekali bukan Riris Triasih. Tak begitu mengherankan jika kemudian Riris mulai berpikir, mungkin benar lelaki itu adalah teman lelakinya di masa lalu. Entah siapa. Sepanjang hidupnya, Riris pernah memiliki beberapa nama istimewa. Bukan hanya satu lelaki yang pernah singgah dan menghiasi ruang hatinya. Dan kini, ia terlalu enggan menerka-nerka siapa salah satu di antara mereka.

index“Sudah kukatakan, ini akun palsu, Riris. Apapun bisa kujadikan nama, kan?” tukas lelaki itu ketika Risis mengatakan tak pernah mengenal seorang lelaki bernama Banta—baik di masa lalu maupun sekarang.

“Lalu, bagaimana Anda tahu nama saya?”

“Hmm, kamu masih tidak percaya kalau aku … ah, sudahlah. Yang pasti, sejak aku melihat foto di cover novel-novelmu secara tak sengaja, aku yakin Embun Kinanti adalah Riris. Mana mungkin aku lupa wajahmu, Ris. Aku masih ingat matamu yang bulat dan bercahaya.”

“Jangan menggombal,” sergah Riris agak jengah. “Meskipun di jaman modern ini internet bisa menyuguhkan segala informasi. But, you don’t know anything about me!”

“Hmm, oke. Tapi, kamu masih suka menggulung rambut dengan batang daun ketela?”

Riris diam dan menahan napas sejenak, lalu menyesap sisa kopi hitam yang mendingin. Menggulung ujung rambut menggunakan batang ketela untuk memberikan kesan ikal, atau mewarnainya dengan biji pepaya yang disangray, adalah kebiasaan yang ia lakukan sejak duduk di bangku SMP. Heran. Bagaimana lelaki itu tahu rahasia kecilnya? Selama ini, hanya keluarga dan orang-orang tertentu yang tahu kebiasaan-kebiasaan unik tersebut.

“Aku juga tahu kalau kamu pernah naksir pacar sahabatmu sendiri.” Lelaki itu kembali menulis. “Lalu apa yang membuatmu ragu kalau aku lelaki dari masa lalumu?”

Kesal merintis. Riris kembali terdiam lantaran kehabisan kata. Ia merasa kalah. Banta tahu tentang masa lalunya. Bisa jadi, memang benar Banta adalah teman dekat yang tengah mempermainkan atau sekadar menggodanya. Ah, hanya manusia kurang waras yang akan melakukan hal iseng seperti itu, tampik Riris berusaha menenangkan diri.

“Kalau Anda bukan pengecut, sebutkan saja nama asli dan selesai perkara,” pancing Riris mulai kehilangan kesabaran. “Maaf, waktu saya terlalu berharga kalau hanya untuk melayani keisengan yang tak berguna seperti ini. Saya harus bekerja!”

“Aku sungguh-sungguh akan menemuimu, Riris,” tulis Banta lagi. “Tolong berikan saja alamatmu di Yogya. Ijinkan aku menemuimu. Dengan demikian, kamu akan tahu siapa aku. Kamu akan tahu bahwa aku bukan hanya ada di dunia maya. Aku nyata, Riris.”

Gelisah mendera. Sekian lama Riris hanya memandangi kotak percakapan pada screen laptop. Rasanya akan memberikan kesan arogan jika ia mengatakan tidak bersedia ditemui. Riris berpikir, jika Banta benar salah satu dari pembaca setia karya-karyanya, tentu ini bukan kesan yang baik. Riris menyadari sepenuhnya, sebagai penulis, apalah artinya tanpa pembaca. Tetapi untuk mengiyakan, rasanya juga begitu berat. Riris belum tahu siapa orang itu. Ia bahkan belum paham, makhluk berjenis kelamin apakah pemilik akun facebook dengan nama Banta itu.

Kesungguhan lelaki itu tak bisa ditaksir sama sekali. Riris tak menyukai cara Banta yang tidak gantle dengan menolak memberikan nomer telepon pribadinya. Riris sangat tahu—diam-diam ia menelusuri lini masa facebook milik lelaki itu—mereka berteman sudah lebih dari dua bulan. Kalau benar lelaki itu teman di masa lalunya, mestinya ia menyapa sejak dulu. Riris menilai lelaki itu hanya golongan manusia aneh dan tak memiliki keberanian untuk menampakkan wajah dan nama asli di media sosial. Ia pun menandai, Banta hanyalah manusia putus asa yang tengah kesepian. Ia memerlukan teman untuk pelampiasan, yakin hati Riris.

Kembali Banta menulis pagi berikutnya. “Aku akan buktikan kalau aku tidak sedang iseng. Minggu depan ada launching novel terbarumu, kan? Kita bertemu di sana, bagaimana?”

“Ya, temui saya di sana saja!” jawab Riris bernada tantangan. “But remember, jangan pernah mencoba membuat ulah atau mengacaukan acara saya.”
***

Benar, ia lelaki dari masa lalu! Kenyataan ini membuat Riris seketika bagai terpaku pada tanah yang ia pijak. Memandangi sosok lelaki tegap dengan manik mata yang hitam, ingatan Riris terbetot pada satu kejadian pada suatu ketika. Dalam pelupuk matanya yang terbuka lebar, Riris melihat sosok Dendy berjalan gegas menuju kantin sekolah. Pemuda jangkung berusia 15 tahun itu begitu mempesona dengan seragam biru-putih yang tertata rapi. Bola matanya yang hitam terbingkai sepasang alis tebal, menyimpan sejuta misteri. Terlebih senyum di belahan bibir indahnya, seolah membuat hati setiap perempuan meleleh. Jujur, diam-diam Riris memendam rasa begitu dalam. Sudah lama ia terlalu mengagumi pemuda itu.

Dendy mengempaskan tubuhnya di kursi kayu panjang, di hadapan Riris dan Lena. Garis-garis kesedihan tiba-tiba tergambar jelas di wajahnya. Tak ada lagi gairah dalam pancaran mata indah itu. “Ini hari terakhirku di sini,” ujarnya lirih dan sedikit terbata. “Besok aku berangkat ke Medan, ikut Ayah dan Ibu. Kami akan menetap di sana entah sampai kapan.”

“Hanya setahun lagi. Tanggung, Den,” komentar Lena, berharap Dendy masih bisa mempertimbangkan keputusannya. “Seharusnya kamu bisa menunggu sampai ujian akhir.”

Riris bungkam. Dadanya dipenuhi gemuruh rasa yang berdentam-dentam. Dendy pun lantas diam seribu bahasa ketika menyaksikan Lena akhirnya tak bisa menahan tangis. Sedu-sedan. Histeris. Jujur, Riris juga ingin menangis kala itu. Rasanya ingin berteriak dan mengadu pada langit bahwa sedihnya tak terkatakan karena harus kehilangan Dendy. Namun, ia mencoba bertahan. Akan terlihat sangat janggal jika pun ia terpaksa melakukannya. Pasalnya, meskipun Riris sangat menginginkan Dendy, tetapi kakak kelasnya itu milik Lena, sahabatnya.

“Riris. Maaf, kamu masih kenal aku, kan?”

Sapaan Dendy membawa Riris kembali ke alam nyata. Riris sadar, mereka masih berdiri berhadapan. Begitu dekat. Aroma asap rokok sekilas menguar dari jaket kulit yang dikenakan lelaki itu. Riris berusaha menguasai diri dari gugup dan gagap yang tiba-tiba menyergap. Ia membenahi rambutnya yang sudah rapi, sekadar menyamarkan gemetar di jemari tangannya.

“Kamu pangling ya?” tanya Dendy kemudian. Ia membasahi bibirnya sebelum melanjutkan. “Kamu tidak berubah, Ris. Sungguh. Masih seperti saat terakhir aku lihat kamu.”

“Itu nggak mungkin, Den. Usiaku hampir 30 sekarang,” sanggah Riris seraya menyilakan lelaki itu duduk. “Terakhir bertemu, aku masih 13 tahun, masih lugu dan jelek.”

Dendy tertawa tak bersuara menanggapi ucapan perempuan berkaca mata itu. Gurat-gurat samar berwarna cokelat terlihat pada deretan giginya yang rapi. Jelas, lelaki itu pecandu rokok. “Bedanya hanya sedikit saja. Mungkin karena sekarang lebih terawat dan dulu tidak.”

Percakapan mereka terputus ketika dua orang remaja perempuan menghampiri. Remaja berseraham SMP itu meminta tandatangan Riris pada novel terbarunya yang sebentar lagi akan di-launching. Riris merasa jengah. Lelaki itu masih mengawasinya. Ah, Tuhan, aku bahkan sulit menemukan kalimat pembuka untuk memulai sebuah percakapan, keluh Risis dalam hati. Untung saja, kesibukan persiapan launching ini bisa menjadi alasan yang tepat.

“Mereka seperti kamu dan Lena, selalu berdua,” komentar Dendy, sesaat setelah kedua siswi SMP itu berlalu. “Ahh … ternyata sudah lebih lima belas tahun kita berpisah ya.”

Perempuan berambut sebahu itu tersenyum. “Sudah lama sekali. Aku ingin bertemu dia,” komentarnya serius. “Semoga setelah ini aku bisa menemukan teman-temanku satu persatu. Dalam keadaan seperti ini, facebook dan sosial media lainnya sangat berperan.”

“Aku belum menemukan siapapun. Punya FB juga belum lama ….”

“Dan hanya untuk iseng,” tandas Riris.

Dendy kembali tertawa. “Aku sudah memenuhi janji. Ini bukti kalau aku serius, Ris.”

Betapa semuanya seperti terjadi baru kemaren. Dendy pindah sekolah. Mereka berpisah sejak hari itu dan tak pernah ada komunikasi. Setelah lulus dari SMP pada akhir 2001, Riris melanjutkan ke SMA di kecamatan Kuala, tak jauh dari desanya. Sedangkan Lena, masuk ke sebuah SMA ternama di kota Meulaboh. Setelahnya, mereka jarang berhubungan dan perlahan hilang kontak, terlebih saat tsunami melanda Aceh. Situasi yang porak-poranda pasca tragedi 26 Desember 2004, memaksa keluarga Riris kembali ke Temangggung. Dan ia harus ikhlas meninggalkan segala kisah di tanah transmigran, tanah kelahiran yang telah membesarkannya.

Riris pernah berharap ia bisa bertemu Lena—dan Dendy yang diam-diam ia rindukan—juga beberapa temannya. Namun, semua isapan jempol belaka. Bahkan ketika lulus dari sebuah SMA di Temanggung dan meneruskan kuliah di Yogya, Riris tak pernah menemukan titik terang. Tak terhitung berapa kali ia mendatangi asrama dan komunitas mahasiswa Aceh. Berharap bisa menemukan petunjuk. Pernah suatu ketika seorang teman lama mengabarkan bahwa Lena berada di Kuala Lumpur. Ia diboyong suaminya yang pengusaha. Kabar itu diperkuat oleh keterangan seorang tetangga lama yang bisa dipercaya, Lena memang telah dipersunting lelaki dari negeri Jiran. Lantas, Riris mencoba menelusuri keberadaan Lena. Nihil. Ketika ia berkunjung ke desanya di Aceh, tak ada satu orang teman pun yang bisa ia jumpai. Tempat itu tak ubahnya perkampungan mati. Hanya ada beberapa penduduk baru yang sama sekali tak pernah ia kenali. Pada akhirnya, ia harus mampu menerima kenyataan bahwa takdir telah memisahkannya dengan segala yang ada di sana. Bagi Riris, Aceh kemudian menjelma sebuah nama asing yang bisa ia sebut dalam dunia dongeng belaka. Sungguh menyakitkan.

Dan kini, tiba-tiba saja Dandy hadir membawa serangkum kenangan dari masa lalu. Puzzle-puzzle peristiwa berhambur di kepala Risis, berpilin-pilin dan saling berkait menciptakan bentangan kisah secara perlahan-lahan seumpama rewind sebuah film. Lelaki itu datang tak ubah gulungan angin puyuh, menghempas segala kenangan masa lalu yang tertimbun sekian lama.
***

“Kebiasaan bengongmu belum hilang juga,” tegur Dendy. Lagi-lagi membuat Riris tergagap dan tersadar dari lamunan panjang. Lengan Dendy yang kokoh menepuk-nepuk bahu Riris lembut. “Mungkin kebiasaan ini yang membuatmu jadi penulis hebat seperti sekarang.”

“Mungkin juga,” sahut Riris menanggapi dengan cepat. Seorang MC membuka acara di atas panggung kecil di halaman depan sebuah toko buku ternama. “Sebentar, aku ke depan dulu ya. Acaranya akan segera dibuka. Jangan kemana-mana.”

Acara launching novel ketujuh yang ditulis Riris berlangsung meriah. Pengunjung meruah. Dendy duduk paling pojok di deretan kursi terdepan. Menyaksikan secara diam-diam senyum dan tatapan lelaki itu, Riris merasakan ada sebongkah bahagia dan secercah harap merambati palung hati. Entah untuk apa. Yang jelas, ia merasa nyaman mendapati Dendy duduk di sana. Sesekali tatap mereka bertumbukan. Setiap kali itu pula Riris merasakan kedua pipinya memanas. Sesuatu mengentak-entak ujung hatinya. Dan entah karena kekuatan apa, segera setelah usai acara, ia mengiyakan ajakan Dendy untuk meneruskan obrolan di sebuah kafe. Percakapan pun berlanjut pada kisah perjalanan hidup mereka setelah terpisahkan oleh jarak dan waktu. Tanpa disadari, tiba-tiba mereka seakrab sahabat lama.

“Foto-foto lelaki yang ada di facebook-mu, diakah almarhum suamimu itu?” tanya Dendy sesaat setelah Riris mengisahkan perjalanan hidupnya. “Aku percaya dia lelaki yang baik, Ris.”

“Belum genap tiga tahun kami menikah, kecelakaan maut merengut nyawanya.”

“Aku ikut prihatin. Sungguh,” sahut Dendy pelan. Ia menyalakan rokok filter yang kesekian.

“Semoga kamu sudah bisa menapaki hari-harimu dengan baik. Mungkin, sudah saatnya juga memikirkan masa depanmu lagi. Jangan terlalu lama tenggelam dalam kenangan. Maaf, aku tahu kamu mencintai dia, tapi kamu juga harus melanjutkan hidup, kan?”

“Terima kasih. But, I’m okay. Sungguh, aku baik-baik saja.” Riris berusaha tersenyum dan mengabaikan rasa sesak di dadanya. “Sekarang giliranmu cerita. Ke mana kamu setelah pindah ke Medan. Lalu, angin apa yang membawamu ke Yogya?”

“Ceritanya sangat panjang.” Lelaki itu mengisap rokoknya beberapa kali sebelum melanjutkan. “Tapi baiklah, aku ceritakan. Meskipun tidak lebih baik dari kisah hidupmu, rasanya memang harus ada yang mendengarnya. Siapa tahu kisah perjalanan hidupku bisa menginspirasi dan menjadi bahan tulisanmu berikutnya, hehe.”

Riris mengangguk dan bersiap untuk menyimak.

“Selepas SMA, terpaksa aku menikah dengan perempuan yang tak pernah kuharapkan akan menjadi ibu dari anak-anakku. Karena suatu sebab, aku harus menikahinya. Ini semua, upah dari cara bergaulku yang tidak benar. Ayah dan Ibu sangat kecewa. Pupus sudah harapan mereka untuk menjadikan anak lelakinya pengusaha yang sukses. Sejak saat itu, mereka sering sakit-sakitan dan akhirnya mangkat dalam waktu hampir bersamaan. Aku berusaha menebus kesalahan, mencoba memperbaiki dan membangun rumah tangga semampu yang aku bisa. Keluarga isteriku sempat membiayaiku kuliah di USU, tapi hanya bertahan tiga semester saja. Keadaan ekonomi saat itu, seolah mengubah jalan hidup dengan drastis.

Aku mencoba peruntungan, bekerja apa saja untuk menghidupi isteri dan anak lelakiku. Awal 2010, aku meninggalkan keluarga, merantau ke Banda Aceh. Harapan bisa menemukan pekerjaan yang cocok, ternyata hanya tinggal mimpi. Keadaan di sana amat sepi. Di sana-sini masih tersisa reruntuhan akibat tsunami. Tak ada yang bisa diharapkan. Aku pun mencoba apa saja, dan terakhir menjadi kuli bangunan di perumahan penduduk yang dibangun dari dana bantuan asing. Dua tahun kemudian, tak pernah kuduga, di tempat itulah aku bertemu Lena ….”

“Lena, Benarkah?”

“Sungguh. Dia Lena-ku yang dulu, Ris. Tuhan mengembalikan dia untukku.”

“Dia tidak sendiri lagi, kan? Bagaimana tiba-tiba dia ada di sana?”

“Suaminya seorang guru SMA.”

“Bukan pengusaha?”

“Guru SMA, katanya teman sekelas di SMA.” Dendy kembali menyulut batang rokok sebelum melanjutkan ceritanya. “Dengan cara baik-baik dan proses yang tak sebentar, aku bicara dengan mereka. Meminta Lena kembali. Untungnya, suami Lena termasuk lelaki yang lemah. Dia rela melepaskan Lena dan berpisah secara baik-baik. Lalu kubawa Lena ke Medan, kukenalkan pada anak dan isteri, juga pada keluarga mereka.”

Riris menyesap sisa kopi hingga ke ampasnya. Kerongkongannya mendadak kerontang.

“Rencanaku, aku ingin mengembalikan anak dan isteri pada keluarganya. Aku ingin menikahi Lena. Hanya saja, semua tak berjalan semulus dugaan. Isteriku menolak diceraikan. Saat bersamaan, anak kami jatuh sakit. Dan Lena … dia dalam keadaan bimbang sekarang. Dia menyesali semuanya dan ingin kembali pada suami yang katanya sangat dia cintai. Tapi aku meminta kami segera menikah siri saja. Hanya ini cara satu-satunya yang bisa kami tempuh.”

Riris tergugu-gugu. Dadanya bergemuruh oleh berbagai rasa.

“Itu sebabnya aku menemuimu, Ris.”

“Maksudmu?”

“Saat kutemukan akun facebook-mu dan melihat keadaanmu, aku yakin kamu sudah sukses sebagai penulis dan juga menjadi isteri seorang dosen. Sebagai sahabat, aku datang ingin meminta bantuan. Aku sedang membutuhkan biaya yang tak sedikit, Ris.”

“Jadi … inikah alasan kenapa kamu menemuiku?”

“Hmm, bukan. Bukan satu-satunya alasan, tentu saja. Aku ingin bertemu dan menjalin silaturahmi. Tapi kamu harus tahu, hanya kamu satu-satunya yang kuharapkan bisa membantuku, menyelamatkan kami dari lilitan masalah. Semoga kamu bisa menghargai usahaku yang sudah datang dari jauh.” Dendy mengeluarkan lembaran kertas dari balik jaketnya. “Ini sertifikat rumah kami. Seandainya kamu tak meyakini ucapanku, ambillah ini sebagai jaminan, Ris.”

Bagai didera sejuta godam, Riris merasakan tenggorokannya tercekat. Lidahnya kelu. Beku. Ia lesap dalam kekosongan yang entah. Banta adalah Dendy, lelaki dari masa lalu yang tak bisa ditaksir kedalaman hatinya. Riris terhempas dalam keterasingan yang amat. Sungguh, ia tak mengenali Dendy dengan baik. Yang ia tahu, lelaki itu amat pintar mengarang cerita sekarang.
***

_____________________
Dimuat di http://www.tamanfiksi.com edisi 09 Januari 2015

Ibuku ….

2015-12-29 09.03.32 Ingin kuceritakan kepadamu tentang hal ini sejak kepulanganku ke tanah kelahiran. Kabar burung, barangkali. Namun, tetanggaku mencekoki setiap hari. Dari mulut satu ke telinga lain, dari telinga ke mulut yang lain, lalu sampai kepadaku. Dan kini kuteruskan padamu: ibuku seorang pelacur. Dan pelan-pelan gosip ini menjelma doktrin bagiku, lalu kenyataan. Ibuku, adalah satu bentuk makhluk yang dihargai hanya dari selangkangan.

Aku sempat berpikir, rasanya tak ada alasan bagi ibu untuk melacur. Kalaupun ada, aku tak tahu kapan ia memiliki waktu. Saat aku terlelap, ia mengendap-endap ke luar rumah tanpa sepengetahuan Bapak? Ah, entahlah. Yang aku ingat, mereka selalu membangunkanku setiap pagi untuk shalat Subuh berjamaah. Semua itu berlangsung hingga aku lulus SMA. Setelahnya, aku tak banyak tahu. Sebab berkat beasiswa yang kuterima, aku harus hijrah dan menetap di Jakarta selama tiga tahun lebih, menyelesaikan kuliah di universitas ternama.

Setahuku, ibu dan bapak hanya sepasang petani sederhana. Keseharian mereka menggarap sawah-ladang yang tak seberapa. Pekerjaan sampingan ibu selain menjadi tukang urut, sesekali membantu persalinan para tetangga. Sedangkan bapak, kadang-kadang menjadi buruh panggul di pasar Beringharjo ketika padi menjelang musim mrekatak. Ibu dan bapak hidup rukun dan bahagia. Mereka memiliki cita-cita yang luhur, ingin menyekolahkanku hingga menjadi seorang insinyur.

Paras ibu memang lumayan cantik, bahkan hingga usianya menjelang 40-an. Ia memiliki wajah khas perempuan Jawa. Rambutnya yang sekarang lebih sering digelung, dulu berupa kepangan panjang hingga ke punggung. Matanya jernih dan agak menyipit ketika tertawa. Lembut bibirnya selalu berhias senyum. Sekarang, memasuki usianya yang ke-60, ia masih langsing meski tidak lagi singset. Kata bapak, dulu banyak lelaki yang tergila-gila. Bahkan ada dua pejabat kotaraja yang menginginkannya, menjadikannya isteri kedua, isteri simpanan dan entah apa. Tetapi ibu takut menjadi orang kota, ia hanya mau kawin dan beranak-pinak di kampung kelahiran saja. Dan atas seizin simbah, ibu memilih bapak.

Sungguh, aku masih berharap omongan para tetangga yang bersumber dari tetangga sebelah rumah itu hanya mengada-ada. Bisa saja mereka iri dengan usaha bapak dan ibu, petani miskin yang berhasil menyekolahkan anaknya hingga menyandang gelar sarjana.

Nduk, kamu percaya? Kamu percaya omongan mereka bahwa kami menghidupimu dari uang hasil ngelonte ibumu ini?” cecar ibu dengan mata berkaca. Napasnya naik turun tak beraturan. Berkali-kali ia menyeka genangan bening di sudut-sudut matanya menggunakan ujung jarik yang ia kenakan. Bibirnya bergetar menahan isak. Beberapa anak rambut berwarna kelabu jatuh satu-satu di keningnya yang berhias kerutan.

Nyuwun ngapunten, Bu. Saya hanya tidak suka mendengar omongan mereka,” ujarku ingin membela diri. Sejujurnya hatiku sangat teriris melihat ibu menangis. Aku ingin memeluk untuk menenangkan gundah dan pilu hatinya, tetapi ia bergegas masuk ke dalam kamar.

Aku tahu ibu sangat menyayangiku–anak semata wayangnya. Hampir setiap menjelang tidur, ia terbaring di sisiku; mendongengkan si Jaka Tarub atau Ande-ande Lumut sambil memeluk tubuhku hingga lelap. Ibu masih sering menawarkan dongengnya bahkan saat aku sudah masuk SMP dan SMA–tentu, tanpa pelukan seperti ketika aku masih SD.

“Duduk dulu, Nduk,” pinta Bapak ketika aku hendak beranjak menyusul ibu. “Ibumu ndak sehina itu,” sergah bapak kemudian. “Biarkan orang mau ngomong apa. Bapak-lah yang lebih tahu siapa ibumu dari dulu hingga sekarang. Itu pun kalau kamu percaya.”

Aku memberanikan diri memandang wajah bapak. Matanya yang sayu memandangiku. Keriput kulit wajahnya semakin kentara di bawah cahaya sentir di dinding gedek. Wajah tua yang penuh sahaja. Tanpa dusta.

“Justeru ini yang ingin saya bela, Pak.” Kutelusuri pendar-pendar cahaya di mata tua milik Bapak–mata yang damai. “Ini tentang harga diri, Pak.”

Telapak tangan bapak yang kapalen, mengusap lenganku pelan. “Nduk, sabar. Keras kepalamu ndak akan menyelesaikan masalah,” sahutnya dengan suara rendah dan berat, tanpa menanggapi ocehanku. “Dan … kalau kamu mau ibumu datang di wisudamu, minta maaflah. Jangan pedulikan orang lain. Ibumu lebih penting dari bualan orang-orang terhormat tak punya hati itu.”

***

Kendatipun ibu dan bapak sudah wanti-wanti melarang, tetapi aku tetap mendatangi rumah pasangan suami isteri kaya yang tak bisa menutup mulut itu. Mereka hanya pendatang, tak seharusnya bermulut besar dan menyerang penduduk tetap desa ini. Mereka belum genap tiga tahun menempati rumah di sebelah barat rumah kami–rumah tua yang kosong entah sejak kapan. Dengan uangnya yang seabreg, mereka membangunnya kembali menjadi rumah tembok yang lebih besar modern. Aku ingin mereka menjelaskan dan meminta maaf atas kelancangan ucapan kotor itu. Mereka harus tahu, ibuku bukan pelacur. Sama sekali bukan!

Namun pasangan suami isteri sebaya ibu dan bapak itu menolak untuk meralat ucapannya, apa lagi bersedia meminta maaf. Tanpa kuduga, sekali lagi si isteri yang berdandan sedikit menor itu menegaskan bahwa benar ibuku seorang pelacur. Ibuku adalah tak lain perempuan simpanan seorang pejabat negara.

“Aku tahu masa lalu ibumu,” ujarnya pelan. “Jangan mencari perkara kalau kamu tidak ingin membongkar aibmu sendiri. Sudahlah, kita sama-sama simpan rahasia ini.”

Darah di seluruh tubuh mengalir cepat. Seketika degup jantungku pun mengencang, dan amarahku bergolak mencapai ubun-ubun. “Kalian sudah berani menghina ibu dan bapak, mencoreng wajah dan mencemarkan nama baik mereka. Saya tak terima … akan memperkarakan ini!”

Pasangan suami isteri itu hanya tersenyum dan menutup pintu rapat-rapat. Aku kalap. Kugedor pintu jati tebal itu sekuat tenaga hingga aku lemas. Ketika aku menjadi tontonan beberapa tetangga, tatapanku berkunang. Bapak datang tergopoh dan memapahku pulang.
***

Aku meminta izin pada ibu dan bapak untuk menyelesaikan masalah ini. Tak ada seorang pun yang berhak menyakiti dan menghina orang tuaku. Aku berjanji pada ibu dan bapak akan segera melaporkan dan menuntut tetanggaku; membersihkan nama baik bapak dan ibu. Namun sungguh jawaban tak terduga yang aku dengar. Sedu sedan, ibu memohon agar aku mengurungkan niat. Aku tak paham. Bagiku, harga diri mereka sudah dinjak-injak. Tetangga yang kurang ajar itu harus diberi pelajaran.

“Ibumu, kata orang memang pelacur, Nduk,” ujar ibu pelan, nyaris tak terdengar.

Nyuwun sewu, kata orang, Bu? Lalu, mengapa Ibu tak pernah menyangkal? Mereka menghancurkan nama baik Ibu.”

“Tak ada yang bisa Ibu lakukan. Penduduk desa memang menganggapnya demikian,” jawab ibu dengan bahasa tubuh yang sama sekali tak mampu kupahami. “Tapi itu dulu. Sekarang dia sudah tenang di alamnya sana.”

Kuperhatikan gerak bibir ibu di antara genangan bening di matanya. Degup jantungku seolah berhenti lalu menggumpal di ubun-ubun. Sesak dadaku. Tidakkah aku sedang salah memaknai ucapan ibu? Tapi … ibu tak pernah bohong. Sungguh, aku ingin berteriak, mengadu pada langit. Oh, Sang Penguasa jagat raya. Kenapa ini harus terjadi?

“Ibu kandungmu adalah Turmi, bukan Ibu yang merawat dan membesarkanmu ini,” tutur Ibu lagi setengah berbisik. Suaranya mendesis di antara gigi-giginya. “Ayahmu juga bukan Bapak yang selalu menjaga dan melindungimu ini. Dua puluh tahun silam, kami mengambilmu sebagai anak, ketika Turmi dihabisi perempuan dari Kotaraja yang mengaku sebagai isteri orang paling penting di pemerintahan.”

“Bapak … Ibu, lelucon macam apa ini?”

“Turmi asli orang sini, Nduk.” Bapak menimpali dengan suara bergetar. “Dia dijadikan isteri simpanan si Orang Penting tersebut dan keberadaannya disembunyikan. Turmi menjaga warisan tujuh turunan dari sang suami. Dan kamu tahu? Rumah sebelah barat yang magrong-magrong itu, dahulu juga miliknya, jadi persembunyiannya. Tapi, serapi-rapinya menyimpan bangkai, akhirnya tercium juga. Keberadaan Turmi dianggap membahayakan kedudukan dan masa depan si Orang Penting, maka jejaknya harus dihilangkan. Hartanya berpindah tangan pada perempuan Kotaraja yang ternyata juga isteri simpanan yang kesekian.”

Dadaku semakin menyesak. Seperti ribuan genderang perang yang ditabuh bersamaan, suara-suara itu berdenging di pendengaranku yang kian menuli.

Lamat-lamat masih kudengar bisikan ibu di telingaku. “Hampir tiga tahun lalu, sepasang suami isteri dari kotaraja datang dan membangun kembali rumah tua yang pernah ditinggali Turmi. Mereka tak lain adalah kaki tangan ayahmu. Pasangan suami isteri yang terlalu menutup diri itu, sengaja disembunyikan untuk menghilangkan jejak kekayaan ayahmu yang lain. Lalu ayahmu, si Orang Penting itu? Sekarang ada di dalam sel entah untuk berapa lama. Kasus bagi-bagi harta dan jabatan yang marak terjadi di gedung wakil rakyat belakangan ini, telah terbongkar dan menyeret nama besar ayahmu … juga beberapa kaki tangannya.”

Aku yakin, kali ini ibu dan bapak tidak sedang mendongeng untuk mengantarku ke peraduan. Dalam sesaat kepalaku pusing dan pandanganku menggelap. Lalu, apa lagi yang harus kuceritakan kepadamu?
***

Dimuat di Tabloid Nova edisi 28 Desember 2015 – 3 Januari 2016

Lelaki Ibukota

Screenshot_2015-10-25-17-36-33 Kau menyesap kopi hitam yang hanya tinggal separuh, berharap mampu meluruh rasa yang berkecamuk, seperti cahaya pagi menjilati embun di pucuk dedaun. Ada rasa kehilangan yang mengentak, berpilin dan menorehkan rindu. Ada rindu yang membaur dalam kesepian. Ada sepi seumpama sahara yang datang dalam kesendirian. Dan kesendirian ini–yang kau maknai serupa kebebasan–benarkah yang mencipta bahagia?

Kemarin malam dan beberapa malam sebelumnya, kau kerap menghabiskan waktu di luar rumah di hiruk pikuk ibukota. Hanya untuk mencari senang, berharap bisa menamukan tenang. Sepulang dari tugas rutin seorang konsultan keuangan, kau berkemas mematut diri lantas menuju tempat yang belakangan menjadi akhir pelampiasan; menyita waktu di sebuah bar yang hingar berhias lampu temaram dan beraroma kemaksiatan. Kemudian, kau pulang di larut malam atau bahkan ketika fajar hampir menjelang.

Pagi ini kau bangun lebih awal dari semburat fajar. Menghirup udara segar di teras depan rumah berteman secangkir kopi panas dan beberapa surat kabar. Kau begitu ingin menganggap wajar berbagai rasa yang berjejal. Dan kau tahu, ini bukan karena Ajeng–isteri tercinta–yang meninggalkanmu dalam suasana meradang. Seharusnya, kepergiannya memberimu kebebasan untuk menikmati alunan waktu dalam kesendirian setelah sekian lama bersitegang. Tidak karena itu. Sebab kau sangat tahu, selama ini kau tak pernah merasa berada dalam kekangan apalagi tekanan, bahkan ketika kau harus menikmati waktu penuh nada tinggi dan teriakan-teriakan sejak pagi hingga petang.

Lantas kau menerka-nerka, mungkinkah jejalan rasa ini karena Rosa? Sejak tiga hari lalu kalian menghabiskan malam bersama tanpa ada yang berusaha memporak-porandakan keindahannya. Yah, perempuan belia nan elok itu telah membawamu memuncak menuju bentang langit tiada batas. Kau berani mematahkan keyakinanmu. Bukan, bukan karena dia! Sebab, sejak hubungan dengan perempuan tercintamu bergerak ke arah berlawanan lalu akhirnya menjadi biasa-biasa saja, kau banyak bertemu perempuan semacam Rosa, walau barangkali tidak dari kelas yang setara.

Kini kau merasa janggal, bagaimana kau bisa begitu lekat dengan perempuan belia yang sama sekali tak pernah berpikir tentang masa depan? Jelaslah ini bukan jalinan kasih. Tak ada kekasih kedua dan kesekian. Kau merasa tak layak jika hal itu terbersit di benak. Sebab, selama dua tahun mendayung bahtera rumah tangga dalam berbagai riak, hanya ada satu perempuan yang layak mendengar bisikan mesra setiap kau bangun di awal pagi. Dialah Ajeng, perempuanmu, istri terkasihmu.

Gegas kau beranjak masuk, meninggalkan sisa kopi dan serakan koran. Kau ingat pesan Ajeng, harus menghubunginya sebelum jam delapan pagi ini. Barangkali perempuanmu ingin menyampaikan keinginan yang pernah disampaikannya, lagi dan lagi, mengadopsi anak dari keluarga tantenya. Atau mungkin tentang keinginan yang lain, lagi dan lagi, yang juga pernah ia sampaikan, meminang sepupunya, yang ia yakini bisa memberikan keturunan. Oh, bukankah ini biang dari segala ketidakharmonisan itu?

Pembicaraan panas semacam itu hampir ratusan kali kalian lakukan. Hasil dari percakapan itu hanyalah sebuah pertengkaran yang berbuntut ketegangan. Pada akhirnya, ketegangan berlarut hingga saling menyalahkan dan saling menuduh bahwa kalian tak mampu memberikan keturunan. Mandul! Tuduhan yang belum berdasar, tetapi selalu saja mencipta percik api perang. Itu pula yang menyebabkan Ajeng terpaksa harus pulang ke rumah orang tuanya hampir sepekan berselang.

Haruskah kau dan dia kini bicara dan mengulang apa yang kerap kalian lakukan? Haruskah kau kembali menyulut api pertengkaran yang sebenarnya belum padam dari puncak masalah yang kesemuanya hampir seragam? Kau menimbang. Mungkin ada baiknya kau mengabaikan pesan perempuanmu dan mengakui sebagai kealpaan, atau memenuhinya dengan resiko meneruskan perang? Mengapa ada ragu, ada resah dan ada takut? Bukankah kau lelaki yang tegar dan mandiri, hidup berkecukupan tanpa harus menyusahkan siapapun? Bukankah kau suami yang baik dan bijak, yang mampu memberikan segala kebutuhan bagi sang isteri?

Berbagai rasa yang tidak jelas maknanya masih berjejal di rongga dada. Namun, sesaat seolah lenyap manakala telepon genggam di tanganmu bergetar. Ada senyum yang mengembang yang datang begitu tiba-tiba dari wajah yang selebihnya agak tegang.

“Aku sudah bilang, aku akan menghubungi kamu!” Ada nada protes walau tidak untuk menghindari dan tidak untuk menampiknya.

“Tahu ini jam berapa, Bang?”

“Tindakanmu sudah melanggar kesepakatan. Jangan bertingkah seperti anak kecil. Dasar polisi gila!”

“Kau bilang, aku hanya adikmu, Bang?”

Kau tertawa panjang tanpa suara, menyimak nada suara yang merajuk di seberang sana. “Ingat, aku Tidak mau menghancurkan rumah tanggaku.” Kau merebahkan tubuhmu di spring bed yang dingin.

Tatapanmu menerawang di langit-langit kamar tidur. “Sesuatu yang istimewa?” Kali ini tawamu lepas, membahana di ruangan itu. “Pagi ini? Tidak bisa. Nanti malam jam delapan bagaimana?”

Ruangan ber-AC itu terasa tidak nyaman lagi, terasa menusuk setiap pori-pori di tubuhmu. Mungkinkah ketidaktegasanmu akan menciptakan pertengkaran baru dan menambah tumpukan rasa kecewa bagi perempuan tercintamu? Ah, betapa kau ingin menyelesaikan semua sengketa. Betapa kau ingin memiliki bahagia seperti bahagia mereka. Kau tekan nomer-nomer yang sudah kau hafal di luar kepala.

“Halo, Ros. Aku ke kamarmu sekarang.” Nada suaramu ringan tanpa beban.
* * *

“Om bilang mau tinggal di rumah, kenapa berubah pikiran?”

Perempuan belia berkulit sawo itu membelai rambutmu tak henti. Ada senyum mengembang di bibirnya yang merekah bersemu jingga. Tentu, perempuan lampai bermata jernih itu teramat bahagia ada dalam pelukan lelaki menjelang 40 tahun dan sukses sepertimu.

“Tante Ajeng masih di Banyuwangi? Bagaimana kalau tiba-tiba dia pulang?”

Kau memainkan rambut perempuan dalam pelukmu, memilin dan melepaskannya berulang-ulang. Senyummu membias walau tidak begitu kentara. Tiga malam kalian menciptakan kemesraan, mereguk kebahagiaan dan menikmati keindahan. Tiga malam berlalu tanpa terasa, begitu cepat. Tetapi kalian masih ingin bersama.

“Aku bahagia di sini,” jawabmu datar, sebab kau sendiri tak yakin dengan apa yang baru saja kau ucapkan. Bahkan kau tidak paham, apa arti ucapanmu.

Kau belum juga menemukan jawaban atas suasana hatimu. Mungkinkah kesepian? Benarkah sedang rindu, lalu pada siapa? Bahkan kini ada rasa aneh menyeruak dalam dada, seperti rasa bimbang yang berlebih. Kau melepaskan dekapan, memberikan tanda agar Rosa tak bersuara. Tanganmu meraih hand phone, ada panggilan dari perempuanmu.

Kau terhenyak dalam senyap. Suara dan sapaan manis itu, betapa telah lama kau rindukan. Ini sebuah keajaiban, mendapatkan satu kejutan di waktu yang sama sekali tak pernah kau harapkan. Rasa rindu dan haru menyergap dalam sekejap. Ingin rasanya kau menghambur dalam peluk perempuan terkasihmu yang lekat dan hangat.

“Maaf, Mas belum sempat hubungi. Semalam ada pesta di rumah relasi hingga larut, Mas bangun kesiangan. Hari ini harus ke golf bersama teman kantor hingga sore. Sekarang di spa. Oya, kapan pulang?”

“Sejak kapan di spa ada musik dangdut?”

“Mungkin mereka ingin suasana yang beda.”

“Saya punya berita bagus, Mas.” Perempuan bersuara lembut itu seakan mengabaikan kalimatmu. “Besok saya pulang. Saya sadar, apa yang kita ributkan sejak dulu, tidak pernah ada artinya. Saya harus melupakan keinginan untuk mengadopsi anak dan tak akan memaksamu lagi bertemu Mira, sepupu yang pernah saya ceritakan itu.”

“Kenapa pikiranmu berubah? Bosan dengan pertengkaran kita?”

Dokter bilang saya subur. Tidak mandul. Ayah dan Ibu juga sudah saya beri pengertian; kita bisa punya anak dari darah daging kita. Kita masih terlalu muda untuk menyerah. Yang kita perlukan, harus banyak menghabiskan waktu bersama, itu saja.”

Barangkali ini saatnya kau tahu apa itu bahagia. Bukan hanya karena isteri tercintamu bisa memahami bahwa pertengkaran itu tak ada artinya, dan dia pulang dengan bendera damai. Lebih dari itu, mungkin benar kalian bisa mempunyai keturunan. Inilah, yang selama ini menjadi sumber api kemelut berkepanjangan.

Kau tatap wajah perempuan belia dalam pelukanmu. Tiba-tiba saja kau merasa ada sesuatu yang aneh menyeruak. Bagaimana kau bisa menghabiskan waktu bersama perempuan berumur belasan? Kau tak mencintainya, tidak juga menyayanginya, tetapi kau masih ingin bersamanya. Ada tasa takut kehilangan yang begitu dalam menghujam.
***

“Cuma mengingatkan, ini sudah jam tujuh. Ingat, macet!”

“Siap, Komandan gila! Aku … bawa yang Thai saja ya. Haha. Aku tahu seleramu, kalau Tidak, mana mungkin kamu suka om-om sepertiku.”

Rosa tak peduli dengan apa yang baru saja didengarnya. Bibirnya hanya menebar senyum bias tak menciptakan makna. Kembali kalian berpelukan. Rosa tak ingin menyia-nyiakan semua keindahan. Kapan lagi dia dapat kesempatan untuk merenda keindahan bersama lelaki sempurna idaman para perempuan? Ia luruh dan pasrah dalam pelukan.

“Hati-hati, Ros. Jangan pernah tinggalkan warna merah di tubuhku. Bukan aku tak suka atau takut isteriku melihatnya. Hanya saja, jam delapan aku harus bertemu Roby. Aku tak mau membuat masalah dengan polisi gila itu.”

Sepenggal kalimat yang didengar Rosa dari mulutmu tak terlalu ditanggapi. Ia tetap dalam bergairah semula. Perempuan belia itu tahu betul harus bersikap bagaimana. Ia benar-benar buta dan tuli untuk saat ini. Ia larut dalam lumatan kenikmatan, begitu abai jika sepasang mata mengintai tajam. Bahkan, kau dan perempuan hijau itu tak sadar ketika satu timah panas tanpa suara bersarang di kepalamu yang berambut legam. Sesaat kau menahan napas, memejam dan merasakan sakit yang menghujam, lalu diam.

Aku telah menghilangkan nyawamu dengan senang, tentu bukan tanpa alasan. Ia yang selama ini kau sebut adik dan melihatmu begitu bahagia, tak pernah merasa senang. Aku tak rela melihatnya ragu dan gamang. Aku paham, dia hanya lelaki muda yang kau butuhkan kadang-kadang dan layak jika ia merasa terbuang. Bukan, bukan aku yang memiliki rasa itu. Aku hanya tak tega melihatnya rapuh, bagai bahtera tak bernahkoda dalam brutalnya gelombang. Kau terlalu memanfaatkan peluang. Terlebih sejak kau banyak menghabiskan waktu bersama perempuan belia yang tak lain hanyalah si Jalang.

Lelaki belia yang selalu kau sebut adik itulah yang menginginkan nyawamu melayang. Ia yang lama terbelenggu gamang dan begitu hafal tabiatmu bak kuda liar tanpa kekang, ingin menyudahi kisahmu. Kepergianmu akan membuat ia lebih tenang tanpa terbebani bimbang. Dan aku … aku adalah makhluk sejenismu yang kini tertawa girang, senang tanpa harus selalu berhadapan denganmu sebagai penghalang. Pada akhirnya nanti, aku dan dia yang kau panggil gila, bisa saling menyimpan rasa sayang.
***

Yogyakarta, 22 Oktober 2015

============================

Sebenarnya, ini cerpen lama. Dibuat sekitar tahun 2008 dan pernah diikutkan dalam sebuah lomba cerpen tentang ‘penyakit sosial masyarakat modern’. Saat itu tentu tulisannya masih acak kadut. Meskipun tentu saja ini pun masih banyak kekurangan, tetapi setidaknya sudah lumayan rapi.

Setelah vermak sana sini–terakhir ganti PoV dan judul–pada 22 Oktober aku kirim ke Radar Banyuwangi dan dimuat pada edisi 25 Oktober 2015. Ini cerpen kedua yang dimuat media tersebut.

Terima kasih sudah membacanya dan jangan lupa saran dan kritiknya ya.